|
Nama/No. Kelompok: |
|
|
No. Induk / Nama Mahasiswa : |
1
Ainul Siti
Fatimah (23530537) 2
Intan Cahaya
Kurniyawati (23530551) 3
Shania Fajriati (23530559) |
|
Hasil Diskusi secara
umum : CT merupakan proses berpikir,
pendekatan berpikir matematis secara umum yang mungkin digunakan dalam
memecahkan sebuah masalah, pendekatan pemikiran teknik secara umum yang
memungkinkan merancang dan mengevaluasi sistem yang kompleks dan besar yang
ada di dunia nyata, serta pendekatan berpikir saintifik secara umum dalam
memahami kemampuan komputasi, kecerdasan, pikiran dan perilaku manusia. CT
memiliki empat fondasi yang menjadi landasan pemecahan persoalan yaitu
dekomposisi (decomposition), algoritma (algorithm), pengenalan pola (pattern
recognition), dan abstraksi (abstraction). 1
Dekomposisi: Dekomposisi adalah
pembagian persoalan ke dalam beberapa sub-persoalan yang lebih kecil. 2
Pengenalan
pola:
Pengenalan pola adalah pengamatan atau analisis terhadap berbagai kesamaan
yang ada di antara persoalan-persoalan. Jika seseorang telah berkali-kali
menyelesaikan persoalan, diharapkan dapat menemukan pola dari
persoalan-persoalan sejenis dan juga pola dari solusi-solusi yang
dirancang/diimplementasikan. 3
Abstraksi: Abstraksi adalah
proses eliminasi bagian-bagian yang tidak relevan dari suatu persoalan.
Dengan abstraksi, dapat dibuat suatu blueprint penyelesaian persoalan
yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sejenis. 4
Algoritma: Algoritma adalah
langkah-langkah terurut untuk menyelesaikan suatu persoalan. Algoritma harus
disusun dengan jelas, runtut, lengkap, efisien, dan tidak menyalahi
batasan-batasan dalam persoalan tersebut. |
|
|
Contoh hal atau persoalan zaman sekarang yang
tidak memakai “komputer”, TIK, dan robot tapi membutuhkan CT. Jawaban : Dalam computational thinking diarahkan untuk memiliki
keterampilan berpikir kritis, kreatif, komunikatif serta keterampilan untuk
berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Tidak hanya itu, computational
thinking juga mengasah pengetahuan logis, matematis, mekanis yang
dikombinasikan dengan pengetahuan modern mengenai teknologi, digitalisasi,
maupun komputerisasi dan bahkan membentuk karakter percaya diri, berpikiran
terbuka, toleran serta peka terhadap lingkungan 1. Memutuskan apakah sebuah hal yang mendetail
dalam sebuah masalah perlu untuk ditampilkan (dipertimbangkan) atau justru
harus diabaikan atau lebih dikenal dengan istilah abstraksi; 2. Solusi otomasi melalui serangkaian langkah
atau dikenal dengan istilah berpikir algoritma 3. Mengidentifikasi, menganalisis dan
mengimplementasikan kemungkinan solusi dari sebuah masalah dengan menggunakan
kombinasi yang paling efisien dan efektif berdasarkan langkah-langkah yang
tepat dan sumber daya yang dimiliki. Dalam penelitiannya, Barr dan Stephenson juga
mengungkapkan bahwa, praktik pembelajaran computational thinking
menumbuhkan kemampuan sebagai berikut: a. Merancang solusi permasalahan (menggunakan
abstraksi, otomasi,menciptakan algoritma, pengumpulan data dan analisis data) b. Implementasi perancangan (pemrograman yang
tepat) c. Penilaian d. Analisis model, simulasi dan sistem e. Merefleksi praktik dan komukasi f. Penggunaan kosakata g. Pengenalan abstraksi dan kemajuan antar level
dari abstraksi h. Inovasi, eksplorasi dan kreativitas lintas
disiplin i.
Pemecahan masalah secara
berkelompok j. Penerapan beraneka
ragam strategi belajar |
|
|
Penerapan fondasi CT
dalam kehidupan sehari-hari. A.
Jawaban yang sudah
tepat 1. Mencuci Pakaian Putih ·
Dekomposisi , pada
tahap awal mengumpulkan pakaian putih yang akan dicuci, menyiapkan alat cuci,
ember, dan memahami proses pencucian. ·
Pengenalan Pola,
mengetahui pola dalam mencuci pakaian
putih dari memisahkan pakaian putih dengan pakaian berwarna untuk dicuci,
memperkirakan detergen dan air yang akan dibutuhkan untuk mencuci pakaian. ·
Abstraksi, Setelah
mengetahui berapa banyak pakaian putih
yang kotor, kemudian akan dilanjutkan dengan memahami pakaian yang kotor,
menyatukan pakaian ke dalam ember hingga mencucinya dan menjemurnya. ·
Algoritma, setelah
mengetahui langkah diatas dari pemecahan mencuci oakaian putih dari memilah
pakaian, menyiapkan detergen, alat mencuci, mencuci hingga menjemur. 2. Memasak Nasi Goreng ·
Dekomposisi Proses memasak nasi
goreng dapat dipecah menjadi beberapa langkah, seperti berikut: a. Siapkan bahan-bahan, seperti nasi, bawang
merah, bawang putih, telur, dan kecap manis. b. Cuci nasi hingga bersih. c. Potong bawang merah dan bawang putih. d. Kocok telur. e. Panaskan minyak goreng. f. Tumis bawang merah dan bawang putih
hingga harum. g. Masukkan telur dan orak-arik hingga
matang. h. Masukkan nasi dan kecap manis. i. Aduk hingga rata. j. Sajikan nasi goreng. Dengan memecah proses memasak menjadi beberapa langkah, kita dapat
memasak nasi goreng dengan lebih efektif dan efisien. Kita juga dapat
memantau setiap langkah memasak untuk memastikan bahwa nasi goreng yang kita
buat sesuai dengan yang kita inginkan. ·
Pola Dalam memasak nasi goreng, kita dapat mengenali pola berikut: a.
Bahan-bahan nasi goreng umumnya terdiri dari nasi, bawang merah,
bawang putih, telur, dan kecap manis. b.
Teknik memasak nasi goreng umumnya meliputi menumis, menggoreng, dan
mengaduk. c.
Waktu memasak nasi goreng umumnya sekitar 15-20 menit. Dengan mengenali pola-pola ini, kita dapat membuat nasi goreng dengan
lebih mudah dan cepat. Kita juga dapat berinovasi dengan menambahkan
bahan-bahan atau teknik memasak yang baru untuk membuat nasi goreng yang
lebih lezat. ·
Abstraksi Dalam memasak nasi goreng, kita dapat menetapkan tujuan berikut: Membuat
nasi goreng yang lezat dan menggugah selera. Dengan menetapkan tujuan ini,
kita dapat memilih bahan-bahan dan teknik memasak yang tepat untuk mencapai
tujuan tersebut. ·
Algoritma Dalam memasak nasi goreng, kita dapat menyusun algoritma berikut: a. Siapkan bahan-bahan. b. Cuci nasi hingga bersih. c. Potong bawang merah dan bawang putih. d. Kocok telur. e. Panaskan minyak goreng. f. Tumis bawang merah dan bawang putih
hingga harum. g. Masukkan telur dan orak-arik hingga
matang. h. Masukkan nasi dan kecap manis. i. Aduk hingga rata. j. Sajikan nasi goreng. |
|
|
B. Jawaban yang kurang tepat 1.
Penanganan masalah hedonisme pada remaja Dekomposisi
: ·
Apa
yang menyebabkan remaja memiliki sikap hedonisme? ·
Apakah
dampak yang ditimbulkan dari sikap hedonisme ? Pengenalan
pola : ·
Mengelompokkan
remaja berdasarkan jenis kelamin dan usia ·
Fokus
mengatasi kebiasaan buruk remaja yang memiliki budaya hedonism ·
Memilih
cara yang tepat untuk menangani hedonisme pada remaja. Abstraksi ·
Menyusun
langkah-langkah penelitian ·
Pengambilan
sampel dan data ·
Melakukan
analisis dan pengamatan ·
Mengatasi
kebiasaan buruk remaja akibat budaya hedonisme Algoritma ·
Para
remaja mengisi kuesioner yang diberikan ·
Melakukan
wawancara terhadap beberapa sampel remaja ·
Menganalisis
data hasil kuesioner, wawancara, dan pengamatan ·
Mengetahui
penyebab budaya hedonisme pada remaja Penanganan masalah
hedonisme pada remaja dikatakan kurang tepat dalam penerapan CT dalam
kehidupan sehari-haru karena ini merupakan suatu persoalan yang kompleks dan
tidak semua orang mampu mengatasi persoalan ini. Tidak semua orang mampu
memahami “apa itu hedonisme”, memahami kondisi psikologis remaja, emosional
dan social remaja sehingga mengikuti budaya hedonisme ini. |
|
TANGGAPAN KELOMPOK LAIN
|
Nama/ No.
Kelompok |
|
|
No. Induk/
Nama Mahasiswa |
1
Ainul Siti
Fatimah (23530537) 2
Intan Cahaya
Kurniyawati (23530551) 3
Shania Fajriati (23530559) |
|
Feedback/Pertanyaan |
Tanggapan/Solusi |
|
Apakah segala
hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari membutuhkan Computational
thinking? (Fajar Anisa) |
Tidak, tidak semua
hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari membutuhkan Computational
thinking. Computational thinking adalah kemampuan untuk memecahkan masalah
dengan menggunakan pendekatan komputasional, termasuk pemecahan masalah,
pemodelan, analisis data, dan pemrograman. Meskipun
Computational thinking dapat sangat berguna dalam banyak aspek kehidupan
sehari-hari, seperti dalam pemecahan masalah kompleks, analisis data, atau
pengambilan keputusan, tidak semua situasi membutuhkan pendekatan
komputasional. Ada banyak
aspek kehidupan sehari-hari yang lebih berfokus pada interaksi sosial,
kreativitas, emosi, atau keterampilan praktis yang tidak terkait langsung
dengan Computational thinking. Misalnya, berinteraksi dengan teman dan
keluarga, bermain musik, melukis, atau melakukan kegiatan fisik seperti
olahraga, tidak selalu membutuhkan pendekatan komputasional. Namun, dalam
beberapa konteks atau situasi tertentu, Computational thinking dapat
memberikan manfaat yang signifikan. Misalnya, dalam pengelolaan keuangan pribadi,
pemecahan masalah teknis, atau analisis data dalam bisnis atau ilmu
pengetahuan. Jadi, meskipun Computational thinking adalah kemampuan yang
berguna dalam banyak konteks, tidak semua hal dalam kehidupan sehari-hari
membutuhkan pendekatan komputasional. |
|
Apakah cara
berfikir CT dalam dunia pendidikan dapat berpengaruh terhadap efektifitas
pembelajaran? (Priyo) |
Cara berpikir
CT dalam dunia pendidikan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran dengan
meningkatkan keterampilan pemecahan masalah, berpikir kritis, kolaborasi,
komunikasi, dan motivasi belajar siswa. Berikut beberapa contoh bagaimana CT
dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran: 1
Siswa
dapat menggunakan diagram alir untuk memetakan proses pemecahan masalah. 2
Siswa
dapat menggunakan peta konsep untuk mengorganisir informasi dan memahami
hubungan antar konsep. 3
Siswa
dapat menggunakan algoritma untuk memecahkan masalah PKN. 4
Siswa
dapat menggunakan program komputer untuk memodelkan dan mensimulasikan
fenomena alam. 5
Dengan
menggunakan CT dalam pembelajaran, siswa dapat menjadi pembelajar yang lebih
aktif, kreatif, dan inovatif. |
